Senin, 02 Mei 2016

Mengenai Postnatal Depression



Belum lama ini aku membaca share-share-an soal depresi pasca melahirkan (postnatal depression) yang cukup menjadi viral (terakhir aku liat dishare sama 20ribu orang di fb). Postnatal depression sepertinya merupakan bentuk lebih parah dari baby blues, dan menurut tulisan itu hal ini bukanlah masalah kejiwaan (dan cukup wajar dialami seorang ibu). Membaca tulisan itu membuat aku jadi bertanya mengenai konsep baby blues dan depresi pasca melahirkan. 

Sebenarnya apa sih penyebab baby blues dan depresi? Masalah kejiwaan atau ketidakseimbangan hormon pasca melahirkan? Menurut situs babycentre, baby blues  disebabkan karena perubahan hormon yang akan sembuh dengan sendirinya, setelah beberapa hari. Sementara depresi pasca melahirkan penyebabnya sangat bervariasi, belum bisa dipastikan dan untuk penyembuhanya memerlukan bantuan tenaga ahli. 

Membaca keterangan itu, aku jadi bertanya lagi, apa yang menjadi pemicu depresi itu? ketidaksiapankah? Atau rasa kaget karena sebelumnya tak pernah bertanggung jawab penuh terhadap seorang bayi? Atau, bisakah seseorang tiba-tiba mengalami depresi tanpa alasan yang jelas? 

Jika memang depresi disebabkan karena perasaan kaget, bukankah semua ibu baru merasa kaget atas rutinitas barunya? Kaget bahwa ternyata bayinya tidak sesuai dengan artikel parenting yang sudah dibacanya. Kaget karena banyak hal yang terjadi tak terprediksikan sebelumnya. Menurutku kaget adalah hal yang wajar ketika kita menemui sesuatu yang baru dihadapan kita. Tapi reaksi atas rasa kaget itu tergantung dari kondisi masing-masing individu. 

Dan pertanyaan yang paling peting, jika memang benar bahwa depresi adalah sebuah ‘kewajaran’, lalu apa jalan keluarnya? 
Serangkaian pertanyaan ini membuatku flashback ke 2 tahunan yang lalu, ketika aku baru menjadi ibu (bukan berarti sekarang aku udah expert loh). Aku ingat ketika aku mengalami kemarahan ketika Bagas tidak mau tidur di saat aku menginginkan dia untuk tidur. Atau ketika aku harus ayun-ayun dia 45 menit supaya tidur, eh 15 menit kemudian dia udah bangun lagi. Padahal dalam bayanganku, aku mau bersantai dengan semangkuk mi rebus dan secangkir kopi. Tapi rupanya, belum sempat itu mi masuk ke mulut, eh si Bagas udah kebangun lagi. Jujur saja, ada fase dalam hidupku dimana aku merasa marah dengan kondisi yang ada. Mengapa untuk memenuhi kebutuhan dasarku sebagai manusia saja rasanya sulit sekali?

Apakah aku mengalami baby blues? Entahlah, aku tak pernah mendefinisikan hal itu. Yang aku tau aku marah karena apa yang aku inginkan (yang menurut aku sangat sederhana, seperti mandi) rasanya sulit sekali untuk terpenuhi. Sampai akhirnya, setelah proses jatuh bangun yang panjang, barulah aku sadar bahwa yang salah bukanlah kondisi yang ada, tapi harapanku sendiri. Perasaan bahwa keinginanku sudah sewajarnya terpenuhi. Keinginanku memang sederhana, tapi justru itulah yang menjadi sumber kemarahanku. Akhirnya, aku belajar untuk melepaskan keinginanku satu per satu. Ya sudah, kalo nggak bisa mandi, ya nggak usah mandi. Kalo nggak bisa leyeh-leyeh, ya nggak leyeh-leyeh. Kalo Bagas nggak mau tidur, ya nggak usah dipaksa tidur. Toh kalo nanti dia tidur, aku juga bisa tidur pada akhirnya. Aku melepaskan apa-apa yang menurutku ‘harusnya’, karena faktanya aku tak bisa melakukan apa yang menurutku ‘harus’ itu. 

Mungkin akan ada yang berkata, ‘jadi para ibu nggak boleh punya keinginan?’ , ‘walaupun itu kebutuhan dasarnya sebagai manusia?’.  Mungkin kesanya begitu. Tapi , dalam hidup memang ada kondisi yang  sudah tidak bisa diotak-atik lagi , harus dijalani suka ataupun tidak. Kalau sudah begitu apalagi yang bisa dilakukan selain melepaskan keinginan dan harapan di hati? 

Menyadari bahwa kita hanyalah seorang hamba mungkin bisa membantu. Apa hakikat seorang hamba? Hamba tak punya pilihan lain selain menerima ketetapan rabb-nya. Allah sudah menakdirkan kita untuk menjadi ibu, menakdirkan bayi kita rewel dan menuntut di bulan-bulan pertama, mungkin menakdirkan asi kita kurang lancar padahal kita udah makan daun katu sampe bosan, menakdirkan bayi kita jaundice di awal-awal kelahiran dan sebagainya-dan sebagainya.  Dan Allah jugalah  yang menakdirkan para bayi tidak memiliki kemampuan bernegosiasi. Lalu kita mau bilang apa? Marah pada keadaan? Pada akhirnya kita memang harus merelakan, bahwa tidak semua kondisi ideal yang menurut kita ‘harusnya’ atau ‘sewajarnya’, bisa kita dapatkan. Hanya dengan merelakan dan melepaskan keinginan kita, barulah kita bisa lebih menikmati apa yang ada di hadapan kita.  

Memang sih, penyebab depresi  sangat variatif, belum tentu seseorang mengalami itu karena kurang nrimo dengan keadaan atau kurang tawakkal dengan ketetapan Allah. Yah, aku pribadi berdoa semoga aku tidak sampai berada di titik depresi seperti tulisan viral yang kubaca itu, ketika aku memiliki anak ke dua dan berikutnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar