Senin, 11 April 2016

Keuntungan Anak Tidak Mendengarkan Musik

Salah satu hal yang tak pernah aku ajarkan pada Bagas adalah musik dan nyanyian. Ya, sebagai ibu, aku tak pernah mengajak anaku bernyanyi atau mengajarkan dia nyanyian. Handphone suamiku tak ada musik (hp ku nggak bisa mutar musik) dan di rumah kami tak pernah menyalakan televisi (bukan anti tv,karena nggak punya antena aja,haha..). Di handphone suamiku hanya ada murottal dan ceramah agama. Otomatis, Bagas tak punya akses terhadap musik dan tak punya pilihan lain selain mendengar apa yang tersedia.

Aku bukan pembenci musik, dulu setiap hari aku mutar musik. Hingga ketika aku menikah dengan suamiku, mengikuti pengajian sunnah dan mengetahui dengan benar hukum musik dalam Agama Islam. Sejak itu, aku tak memutar musik lagi. Berikut salah satu dalil yang mengharamkan musik, seperti yang kukutip dari rumaysho.com

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah padanya dengan azab yang pedih.” (QS. Luqman: 6-7)

Ibnu Mas’ud ditanya mengenai tafsir ayat tersebut, lantas beliau –radhiyallahu ‘anhu– berkata, Yang dimaksud  (perkataan yang tidak berguna) adalah nyanyian, demi Dzat yang tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi selain Dia.” Beliau menyebutkan makna tersebut sebanyak tiga kali.

Jika ada yang mengatakan, “Penjelasan tadi kan hanya penafsiran sahabat, bagaimana mungkin bisa jadi hujjah (dalil)?”
 
Maka, cukup kami katakan bahwa tafsiran sahabat terhadap suatu ayat bisa menjadi hujjah. Ibnul Qayyim mengatakan, “Walaupun itu adalah penafsiran sahabat, tetap penafsiran mereka lebih didahulukan daripada penafsiran orang-orang sesudahnya. Alasannya, mereka adalah umat yang paling mengerti tentang maksud dari ayat yang diturunkan oleh Allah karena Al Qur’an turun di masa mereka hidup”.

Lalu bagaiman dengan penelitian para ahli yang menunjukan manfaat musik bagi anak-anak? Aku tak menampiknya, aku percaya musik memiliki sedikit manfaat. Tapi  manfaatnya tak sebanding dengan mudharatnya. Perlu diingat bahwa adalah wajib bagi seorang muslim untuk beriman ketika dalil sudah datang padanya. Dan apakah aku berani menyandingkan dalil dengan perkataan entah siapa? Berikut aku kutip pernyataan Ibnul Qayyim

“Firman Allah dan sabda Rasul Nya itulah ilmu. Juga perkataan para sahabat, mereka ahli ilmu. Bukanlah ilmu jika secara bodoh kamu melawankan antara sabda Rasul dengan perkataan seorang fulan”

Mungkin akan ada yang berpikir bahwa, anaku kasihan karena tak bisa bersenang-senang seperti anak kebanyakan, dan bahwa musik membuat hidup lebih berwarna.Menurutku pendapat itu terasa berlebihan. Bersenang-senang tidak hanya dilakukan dengan musik. Dan jika seorang muslim berkata bahwa musiklah yang membuatnya tenang dan bahagia, aku ingatkan kembali ayat berikut: 

Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. ar-Ra’du: 28)

Lalu apa keuntungan yang kuperoleh dari tak pernahnya Bagas mendengarkan musik? Pertama, karena dia tak punya akses ke musik, ketika ia megang HP abinya mau nggak mau dia mendengarkan murottal. Kedua, karena dia cuma tau murottal dan adzan, maka ketika dia ingin bersenandung maka yang dia senandungkan adalah adzan dan murottal. Ketiga, karena dia cendrung lebih sering dengar murottal, mau nggak mau dia hapalnya surat Al Quran, lebih tepatnya Al-Fatihah. Memang belum lancar dari ta’awudz sampai amin sih, tapi dia sudah bisa menyambung kalau aku pancing dengan kata-kata awal. Not bad lah.. Bukankah bagi seorang muslim lebih bermanfaat surat Al Fatihah dibandingkan ‘balonku ada lima’?

Memang sih, aku tak bisa selamanya menutup akses Bagas dari musik. Zaman sekarang, musik diputar dimana-mana, mesjid aja mutar musik ‘islami’ kok. Tapi paling tidak, bukan aku yang memperkenalkan musik pada anaku. Mengapa itu penting? karena kita bertanggungjawab terhadap tanggungan kita. Ketika mengajarkan yang baik, kita mendapatkan balasan, ketika mengajarkan yang buruk pun kita mendapat balasan.

Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata,
"Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123). (dikutip dari muslim.or.id)
 
 ODOPfor99days #day22

Tidak ada komentar:

Posting Komentar