Minggu, 06 Maret 2016

Takut



Kemaren aku mengalami ketakutan yg dalam yang belum pernah kualami sebelumnya. Jadi, pagi hari pukul 7, aku berencana berbelanja ke pasar. Di jalan aku dijambret. Aku tak ingat persis kejadianya dan bagaimana aku jatuh, kata ibu-ibu yang menolongku, aku terguling-guling. Yang jelas kepalaku benjol (padahal aku pakai helm) dan penglihatanku terganggu dan tak dapat fokus. 

Setelah suamiku datang, aku dibawa ke rumah sakit. Kata dokter, mereka harus melakukan observasi selama 1 jam setengah untuk memastikan benturan di kepalaku hanya terjadi di luar tengkorak. Jadi, aku bertanya pada dokter itu apa yang menjadi indikasi ada benturan yang berbahaya. Pada titik ini jika aku menggerakan kepala terlalu banyak, semua hal di sekelilingku berputar-putar kencang. Dokter itu menjawab bahwa jika ada pendarahan di dalam tengkorak, biasanya pasien akan muntah kemudian dengan cepat kehilangan kesadaranya. Jika sudah begitu ia akan koma. Hah?! Serem amat? Padahal saat itu perutku sudah mual dan aku tau aku ingin muntah.

Aku langsung berpikir banyak. Bagaimana jika dalam waktu dekat malaikat maut mendatangiku, dan  mencabut nyawaku? Aku bukanlah ahli ibadah, bukanlah seorang istri dan ibu yang baik, bukanlah seorang anak yang berbakti, bukanlah tetangga dan teman yang menyenangkan. Lalu darimana peluangku masuk ke dalam surga? Aku ingat betul mengenai hadist tentang hal yang akan dialami oleh pembuat maksiat setelah nyawanya dicabut dari jasadnya. Bagaimana jika nyawaku di bawa kelangit dalam kondisi sangat busuk kemudian  malaikat tak mau membukakan pintu langit dan nyawaku dihempaskan kembali ke jasadku begitu saja? Bagaimana jika aku tak dapat menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur? Bagaimana jika di dalam kubur aku ditemani makhluk yang sangat buruk yang merupakan hasil amal buruku? Bagaimana jika aku didatangi makhluk, yang rasa belas kasih telah dicabut dari dadanya, membawa palu godam besar, untuk memecahkan kepalaku terus menerus hingga hari kiamat kelak? Ya Allah aku takut.


Aku melihat jam, waktu baru berjalan beberapa menit. Suamiku sedang mengurus urusan administrasi. Apa yang bisa kulakukan sambil menunggu? Teringat olehku zikir yang disukai oleh Allah tapi selama ini dengan malas aku ucapkan : Astagfirullah wa atubu ilaih (aku meminta ampun dan bertaubat kepada Allah). Kali ini zikir itu kuucapkan dengan sungguh-sungguh dengan harapan Allah mau mengampuni dosaku. 

Kemudian suamiku datang, kugenggam tanganya, aku menangis,’’feby takut”. Suamiku mengira aku takut karena kejadian yang baru kualami, ia menghiburku. Aku tak menjelaskan padanya apa yang membuatku takut. Itu hanya akan menimbulkan kesedihan di hatinya, bukan?

Alhamdulillah, meskipun terasa lama, waktu satu setengah jam berlalu, dan aku boleh pulang oleh dokter. Aku sangat bersyukur untuk itu, tapi kejadian ini jelas menjadi pengingat bagiku betapa aku tak boleh menyia-nyiakan modal yang masih kumiliki : umur. 

‘Di dalam kubur tidak adalagi kesempatan beramal yang ada hanya hisab’

Note: bagi yang ingin membaca hadist panjang mengenai hal yang dialami manusia setelah kematianya, silahkan klik link ini.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar