Sabtu, 26 Maret 2016

Dunia IRT sempit? Perasaan Lo Aja Kali...



Salah satu stigma yang menurutku kurang tepat adalah bagaimana ibu rumah tangga sering dipandang sebagai kelas kedua dibandingkan para wanita yang bekerja. Seakan-akan IRT memiliki dunia yang sempit dan tertinggal di belakang. Nggak sedikit deh aku baca atau dengar komentar seperti, ‘sayang, taunya urusan rumah tangga aja’, atau ‘nggak berkembang karena sekarang sibuk ngurusin anak doank’, ‘di rumah ngapain aja sih? Enak donk tidur-tidur’ dan kalimat-kalimat lain dengan nada sejenis. Salah satu pengalaman nyata lainya adalah ketika ibuku ditanya oleh pegawai pustaka wilayah apa pekerjaanya, kemudian mereka tak percaya ketika ibuku menjawab bahwa beliau  ‘Cuma’ IRT (mereka mengira ibuku guru), karena tiap minggu rutin pinjam buku ke sana. Kalimat-kalimat itu, pada dasarnya bermuara pada pola pikir yang sama: IRT tidak diapresiasi sebagai pekerjaan produktif dan miskin ‘development’. 

Apa benar begitu? Pertanyaan dan pernyataan usil mengenai IRT ini, membuatku ingin balik mengkritisi dan bertanya :

Lalu kenapa kalau taunya urusan rumah tangga saja?

 Jika memang seseorang taunya urusan rumah tangga saja, lalu kenapa? Apakah artinya pengetahuan seputar rumah tangga itu useless? Jika begitu, lalu bagaimana dengan Martha Stewart ? Bukankah  Martha Stewart justru terkenal karena pengetahuanya di ranah domestik? Martha Stewart merupakan pakar dibidang masak-memasak, bersih-bersih, menata barang-barang, berkebun, menjahit, dan segala tetek-bengek rumah tangga ‘banget’  lainya.  Tapi toh justru pengetahuanya itu yang mengantarkanya hingga memiliki acara tv dan majalah yang populer hingga sekarang. Jadi siapa bilang pengetahuan seputar rumah tangga itu pantas untuk diembel-embeli dengan ‘Cuma’ atau ‘doank’?

IRT pengetahuanya sempit? Ah masa?

Jika ada yang bilang bahwa IRT miskin pengetahuan baru, maka aku akan bilang bahwa itu orang hidup di jaman batu. Jaman sekarang mah, informasi bisa didapat di ujung jari, kembali ke individunya aja mau nyari apa nggak. Percaya deh IRT yang berkecimpung di bisnis online atau jualan di ebay misalnya, justru punya pengetahuan lebih banyak seputar teknik jualan dibanding wanita bekerja yang androidnya dipake buat instagraman doank. Atau IRT yang doyan nulis blog lebih paham soal SEO atau bahkan desain website dibanding ibu dokter sekalipun (yang  tentu saja juga memiliki ilmu lain yang tidak diketahui oleh si IRT). Kesimpulanya, tiap orang akan lebih memiliki ilmu dan kepakaran di bidang yang mereka geluti. Dan pada akhirnya tidak mungkin seseorang bisa menjadi ahli di semua bidang. Jadi mengapa pula harus mengecilkan pengetahuan orang lain, dan merasa superior dengan ilmu yang dimiliki padahal bidangnya jelas-jelas berbeda?

IRT tidak punya kesempatan berkembang? Yakin?

Dan terakhir, aku tak setuju bahwa IRT adalah pekerjaan yang miskin development. Ayolah, aku juga pernah jadi mbak-mbak kantoran kok, jadi aku kurang lebih tau, bahwa kerjaan kantoran kalau levelnya masih staff atau supervisor, biasanya berada dalam siklus yang isi pekerjaanya muter di situ-situ saja. Perihal development itu kembali ke individu masing-masing, mau belajar dan berkembang atau tidak. Begitu juga dengan IRT. Aku punya contoh 2 kasus riil, dimana IRT mau dan mampu untuk meningkatkan kemampuanya, yaitu Yayuk Sri Rahayu dan Mira Julia. Mereka adalah 2 IRT yang memutuskan untuk memperdalam bidang ilmu yang mereka sukai. Yayuk Sri Rahayu mengembangkan sistem pertanian organik dengan sistem zero waste di Nganjuk, Jawa Timur (Sumber: Femina edisi Januari 2016). Sedangkan Mira Julia merupakan web desainer serta pemilik situs Digital Mommy. Kedua ibu ini belajar secara otodidak ilmu pengetahuan yang dibutuhkan disela-sela kesibukan mereka sebagai IRT. Hasilnya? Yayuk Sri Rahayu membangun sebuah cv yang mengumpulkan hasil pertanian di desanya, dan memperbaiki sistem pertanian desanya. Dan Mira Julia memenangkan Bubu Award (Bubu Award adalah penghargaan profesional di bidang teknologi digital untuk industri dan pemain yang dinilai memberikan kontribusi untuk membawa Indonesia ke dunia digital berkelas dunia) atas situs Digital Mommynya. Masih berani bilang IRT itu miskin development? 

Ah, mungkin ada yang bilang, ‘tapi lebih banyak IRT yang nggak berkembangnya tuh’. Mungkin memang benar begitu, walaupun konsep ‘berkembang’ itu sendiri sungguh relatif antara satu orang dengan yang lainya. Tapi jika dinilai secara kasat mata, pegawai kantoran yang stuck di posisi yang sama bertahun-tahun tanpa perkembangan yang berarti juga banyak kan? Jadi, pada akhirnnya, pengembangan diri seseorang menyesuaikan kualitas yang ada di dalam diri orang tersebut. Tergantung dari bagaimana orang itu mengisi waktunya dan seberapa besar keinginan orang itu melakukan hal yang bermanfaat dan positif dalam hidupnya. Jika begitu, mengkotak-kotakan seseorang dalam stigma yang keliru (dan menyebalkan) sungguh merupakan konsep nilai yang tak relevan. Pada akhirnya, stigma hanyalah stigma, sebuah nilai relatif yang tidak akan menunjukan kualitas sebenarnya dari seorang individu. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar