Kamis, 25 Februari 2016

'Wise' woman: accept it-like it is



Beberapa hari lau, aq bertambah umur. Sejujurnya, aku tak suka meninggalkan usia wanita muda dan beranjak menuju wanita ehem ‘matang’. Maunya muda aja terus pokoknya. Haha.. Padahal perigatan dari Allah sudah lama datangnya. Apa itu? Uban! Yup, pada suatu hari waktu suami mengoleskan vitamin ke rambutku (ya, itu tugas dia, kan dia juga yang nikmatin kelembutan rambutku ;p ), tetiba dia berkomentar,”Adek udah banyak peringatanya nih”. Hah!? Serta merta aku ngecek di kaca, bener bok! Di sela-sela rambut hitam bermunculan rambut-rambut keperakan! Aaaaaaaaaa! Masa umur segini eike udah ubanan! 

Aku rasa uban ini bermunculan semenjak aku punya si Bagas. Ya, mengurus anak bukan hal yang mudah bagiku. Uban-uban ini agaknya muncul dari pikiranku yang kadang jelimet sendiri. Jadi, di pertambahan umur ini, aku memutuskan untuk menyimplekan hidup, yaitu : stop being a drama queen and roll with the punches! Artinya, aku nggak akan mikirin hal yang nggak penting dan menerima kondisi yang ada.

Aku akui saja anak-anak memang sangat menguji kesabaranku yang kebetulan tak seberapa itu. Aku ingin melakukan sebuah percobaan, yaitu setiap kali aku mau marah sama si Bagas, aku justru akan memaksa diriku untuk diam dan mencium dia. Lalu kabur meninggalkan ‘medan pertempuran’. Aku pikir, lebih baik aku menunda menghadapi hal-hal yang mengesalkanku hingga pikiranku lebih tenang, sehingga tak tercetus kata-kata yang akan kusesali belakangan. Apakah cara itu berhasil? Ah, masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan. 

Bagas n Bening sibuk minta tiup lilin :)


Dalam rangka menyimplekan hidup, aku memutuskan untuk memperbaiki mindsetku. Pingin ini/itu tapi kondisi nggak memungkinkan? Ikhlaskan! Mimpi yang hendak dicapai tapi gagal terus? Perbaiki cara untuk mencapainya, dan melangkah lagi. Nggak penting untuk berkeluh kesah dan menyalahkan kondisi. Ketemu sama orang yang menyebalkan? Tinggalkan! Nggak penting mikirin orang yang nggak penting. Ada orang yang pola pikirnya aneh, hobby menjelek-jelekan agama sendiri? Acuhkan! Nggak penting mendengarkan ucapan atau membaca tulisanya. Nggak penting untuk membuat seseorang seide/sependapat/ membenarkan keyakinan yang kita anut. Berdakwah menyebarkan ilmu agama? Yup! Berdebat panjang-pendek dengan mereka yang nggak seide? No! 

Ya, aku akui saja dulu aku suka aneh sendiri kalau baca tulisan dan pola pikir mereka yang tak seide denganku, kelompok Islam Liberal  (Sejak kapan kata Islam nyambung dengan kata Liberal?) atau kelompok ‘garis lurus’(tapi seneng nyebarin berita yang tak terlalu lurus) misalnya. Aku kadang mikir, kok bisa ada orang begini ya? (mungkin orang lain mikir gitu juga tentang aku,haha..). Tapi sekarang, aku tak mau ambil pusing lagi. Baca tulisan/status share-share-an dari mereka aja ogah. Terserah lu deh, mendingan aku sibuk mempelajari Islam secara lebih mendalam daripada mencoba menelaah pola pikir nyeleneh seperti itu. Dan lagi sekarang aku berprinsip, baca sampah, berarti memasukan sampah ke kepala. Dan aku nggak punya waktu untuk itu.

Secara keseluruhan aku tak mau terlalu serius memikirkan berbagai perkara dunia. Kesedihan tak terlalu dipikirkan dan kebahagiaan tak dinikmati secara berlebihan. Ketika sudah melakukan suatu bentuk upaya, lalu yg terjadi bukanlah apa yang diharapkan, berarti itu Qodarullah. Yang perlu diingat, semua yang terjadi di hidup kita sifatnya sementara, persis seperti dunia yang juga sementara. Maka apa-apa yang berkaitan dengan dunia tak perlu terlalu melekat di hati. Karena apa gunanya? Toh Itu semua hanya sementara.

Menurutku dengan sikap mental tersebut, aq melatih pola pikirku untuk membedakan apa yang memang prioritas dan apa yang bukan. Pada akhirnya diharapkan aku dapat memberi reaksi terhadap sesuatu sesuai dengan kadar yang pantas. Tidak stress berlebihan dan tidak bersuka ria secara berlebihan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar