Rabu, 24 Februari 2016

Untuk Bagas

Dalam sebuah hadits shahih dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak lama lagi umat-umat lain akan saling menyeru untuk mengeroyok kalian seperti orang-orang yang makan mengerumuni nampan (berisi hidangan makanan)“. Salah seorang sahabat  bertanya: “Apakah dikarenakan jumlah kita sedikit kala itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bahkan kalian saat itu berjumlah banyak, akan tetapi kalian buih (tidak memiliki iman yang kokoh) seperti buih air bah, sungguh (pada saat itu) Allah akan menghilangkan rasa takut/gentar terhadap kalian dari jiwa musuh-musuh kalian dan Dia akan menimpakan (penyakit) al wahnu ke dalam hati kalian.” Maka ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah (penyakit) al wahnu itu? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Cinta (kepada perhiasan) dunia dan benci (terhadap) kematian“ (dikutip dari muslim.or.id)

Dikeroyok, jujur saja, begitulah kondisi umat muslim sekarang ini. Mulai dari serangan fisik secara terang-terangan, penghinaan, hingga menyusupkan logika nyeleneh ke dalam umat ini. Umat muslim sendiri mulai kurang pede menunjukan identitasnya dan tidak berani dengan tegas menunjukan sikapnya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan agama. Bahkan, tak berani dengan tegas mengatakan bahwa agama yang dianutnya adalah agama yang paling benar, karena takut dianggap fanatik.

Pertanyaanya, apakah meyakini bahwa agama yang kita anut adalah agama yang paling benar menjadikan kita seorang fanatik? Jika memang begitu ,lalu arti iman itu apa sih? Dalam Islam sudah jelas, meyakini hanya Allah Rabb yang berhak untuk disembah. Tidak ada yang lain. Lalu iman seperti apa yang tidak meyakini bahwa agamanya lah yang paling benar? 

Aku nggak mengatakan bahwa kita harus berkoar-koar mengatakan hal ini di depan seorang non muslim atau bersikap tidak menyenangkan terhadap mereka. Tapi keyakinan bahwa agama yang kita anut adalah agama yang benar adalah sesuatu  yang pasti mengikuti konsep iman, bukan? Jika kita meyakini semua agama benar, maka kita tidak mengimani agama manapun. Jika kita mengatakan semua Tuhan berhak disembah berarti kita tidak meyakini Tuhan yang manapun. Setiap pemeluk agama pasti meyakini bahwa agama yang dianutnyalah yang paling benar, jika tidak dia tidak akan memeluk agama itu bukan? 

Ah, melihat bagaimana kondisi saat ini, aku jadi mengkhawatirkan anakku sendiri. Aku menyadari, bahwa aku harus menanamkan prinsip yang kuat di hati anaku. Tidak, aku tidak akan mengajarkanya untuk membenci pemeluk agama lain, tapi aku tak mau ia tumbuh menjadi orang yang mencla-mencle dan tidak memiliki pendirian. 

Karena itu aku berencana untuk mengenalkan Bagas sebanyak mungkin tokoh dan sejarah agamanya. Kita akui saja anak-anak muslim lebih mengenal tokoh Disney daripada para sahabat. Lebih hapal lirik ‘let it go’ daripada shalawat dan dzikir harian. Toko buku juga lebih banyak menjual buku fiksi tak masuk akal dibandingkan sejarah yang memiliki hikmah yang nyata. Lalu bagaimana mereka bisa yakin jika kenal saja tidak?

Aku berpikir untuk menuliskan si Bagas cerita anak-anak berdasarkan kisah nyata kaum muslimin di masa lalu. Sekedar kisah-kisah ringan yang pendek dan bergambar sehingga gampang untuk dipahami anak-anak. Harapanku, semoga saja dengan seringnya ia mendengar dan mengenal kisah-kisah dari agamanya, perasaan cinta dan yakin terhadap agamanya tumbuh dengan kuat dihatinya. Insya Allah.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar