Rabu, 17 Februari 2016

Being a Stay At Home Mom is..



Salah satu tema  yang menjemukan bagiku adalah tema seputar ibu bekerja vs ibu rumah tangga. Entah itu sindiran antara satu kubu dengan yang lain ataupun upaya pembuktian diri dari salah satu kubu. Bosan. Itu yang langsung muncul di kepalaku kalo muncul tema beginian, entah di status sosmed, artikel, apalagi bahan pembicaraan.

Tapi aq cendrung lebih jenuh kalo para IRT mulai memuji diri sebagai yang paling perhatian dan peduli sama anaknya. Mulai mengatakan bahwa wanita ‘pembentuk peradaban’, dan sebagainya-dan sebagainya. Oh ya, aq setuju bahwa para ibu memiliki peran besar dalam tumbuh kembang anaknya, tapi nggak perlu juga memamerkan hal itu kan?

 Aq seorang IRT. Dan aq tidak memilih hal itu karena peran itu aq anggap mulia. Aq memilihnya karena tidak punya pilihan lain. Tiap pilihan ada konsekuensinya. Dan aq merasa tidak sanggup menanggung konsekuensi sebagai wanita karir dengan jam kerja  8am-5pm. Karena itu artinya aq harus cari orang untuk ngurus si Bagas, dan aq harus membiarkan orang lain mendidik Bagas. Yang mana hasil didikan itu, aq yang akan pertanggungjawabkan kepada Allah kelak. Aq tak mau menitipkan Bagas ke sebuah tempat yang menyuruh anak-anak menghapal rukun iman pake mikrofon keras-keras, tapi tidak benar-benar menanamkan konsep iman ke dalam hati mereka ( Memang tidak semua lembaga pendidikan begitu, ada kok yang benar-benar berkualitas).  Aq merasa konsekuensi dari tidak berkerjanya aq masih bisa ditanggulangi daripada konsekunsi yg harus kuterima jika aq bekerja. Dan aq juga nggak mengatakan bahwa aq akan selamanya jadi IRT, jika kondisi memaksa mungkin aq akan kembali bekerja. 
 
Aq akui ibu rumah tangga bukan profesi yang terlihat keren. IRT itu biasanya diplesetkan jadi PRT kok. Biasanya beberapa orang berusaha untuk membuat pencitraan lebih terhadap konsep ibu rumah tangga.  Banyak deh tulisan yang ingin membesarkan hati para ibu rumah tangga ‘saja’. Kalo sudah begitu, aq suka bertanya sendiri, ‘memangnya kenapa kalo nggak keren?’, ‘kenapa penting sekali dibilang keren?’. Toh peran itu kita pilih bukan supaya dibilang keren/mulia kok. Jika memang pilihan itu dilakukan dengan ikhlas, maka pujian atau hinaan nilainya sama saja di mata kita. Mau dibilang PRT monggo, mau dibilang ‘pembentuk peradaban’ silahkan.  


Dan lagi, apa yang kita rasakan di dalam hati, harusnya tidak berasal dari pandangan/pemikiran orang lain. Kalo kita merasa jemu karena perkerjaan irt itu gitu-gitu doank, ya kita cari kegiatan lain yang menyenangkan. Kita lakukan itu untuk diri kita sendiri, bukan supaya dibilang ibu kreatif-ibu super-ibu serba bisa, dan sebagainya-dan sebagainya. Karena, akan sangat melelahkan jika kita memilih sebuah peran hanya demi mengejar ‘titel’ atau ‘pengakuan’.

Tulisan ini bukan untuk membela ibu bekerja atau menyudutkan para IRT, aq hanya ingin mengingatkan, bahwa ikhlas dengan hal baik yang kita pilih karena Allah, berarti kita menerima apapun konsekuensi dari pilihan kita. Dan terus menerus berupaya memuji diri sendiri dengan berbagai upaya pengakuan diri, hanya akan menggerus nilai amalan kita di hadapan Allah.


-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar