Selasa, 19 Januari 2016

Sedikit Mengenai Menulis



Belum lama ini aq membaca sebuah tulisan di Kompasiana mengenai lomba menulis yang tidak memiliki pemenang. Aq bisa memahami kekesalan penulisnya, sudah menulis dengan sungguh-sungguh eh penyelenggara lomba dengan seenaknya mengatakan tidak ada pemenang. Aq tersenyum membayangkan reaksi suamiku jika aq menceritakan artikel ini padanya. Kurasa dia akan berkomentar kurang lebih ‘tuh kan apa abang bilang’.

Aq sempat menjadi kontes menulis hunter. Pokoknya apapun temanya (selama tidak bertentangan dengan prinsip hidup dan agama tentu), asal hadiahnya lumayan pasti aq semangat ikut. Bahkan bisa dibilang sebagian besar tulisanku adalah tulisan untuk lomba melulu. 

Dan kegiatan ini tak terlalu disukai suamiku. Hal ini sering menjadi ajang diskusi-debat kami. Menurutnya, lomba adalah kegiatan ‘bodoh-bodoh’. Karena pemenangnya Cuma sekitar 3-5 orang dari ratusan hingga ribuan peserta (malahan aku pernah ikut kontes kelas dunia yang pesertanya ratusan ribu). Menurutnya penyelenggara lomba selalu mendapat kentungan berkali-kali lipat dibanding hadiah yang dikeluarkanya untuk para pemenang. Peserta yang sebanyak itu hanya dimanfaat oleh penyelenggara lomba.Well, mungkin dia benar, tapi kan pemenangnya dapet hadiah lumayan kan?

Lalu dia akan membantah lagi dengan bilang bahwa menang lomba bukan tujuan seorang penulis. Katanya menulis itu seharusnya memberikan kepuasan dihati penulisnya ketika menuliskanya maupun membacanya kembali suatu hari nanti. Dan dia nggak yakin aq akan happy membaca artikel-artikel lombaku lagi, 2-3 tahun mendatang. Hm, kali ini dia juga benar pikirku sambil melirik artikelku mengenai review gadget keluaran terbaru.

Tapi aq masih berkilah, bahwa dengan ikut lomba menulis, aq bisa berlatih menulis dengan baik dengan cara mempelajari tulisan pemenang. Dia membantah lagi dengan bilang, bahwa lomba tidak bisa dijadikan ajang belajar, karena penilaianya yang tak jelas tergantung dari kriteria yang ditentukan oleh masing-masing juri. Dan seringnya juri tidak memberi keterangan mengenai alasan mengapa sebuah tulisan menang, sehingga sulit untuk menentukan standar artikel yang baik berdasarkan lomba. 

Nah, kali ini aq kehabisan jawaban, eh si abang masih ada bantahan lagi mengapa dia nggak suka dengan lomba. Dan alasan yang terakhir ini mungkin paling menohok. Dia bilang,”karena artikel yang ditulis untuk lomba biasanya (nggak semuanya loh ya) nggak punya jiwa, nggak ada penghayatan disana, lah wong temanya aja ditentukan juri kok”. 

Aq merenung. Kurasa mas benar. Aq sudah ikut puluhan lomba, tak ada satupun yang menang. Akupun tak tau apakah kemampuan menulisku telah mengalami peningkatan atau belum. Dan aq setuju soal tulisan ‘tanpa jiwa’ yang dimaksudkanya. Mana mungkin aq menulis dengan semangat soal perumahan yang belum pernah kulihat kan? dan lagi tulisan lomba biasanya penuh dengan ‘sugar coating’ untuk sponsor. 


sumber : buzzfeed.com



Aq jadi teringat dengan tulisan penulis sekelas Andrea Hirata dan Agustinus Wibowo. Tulisan mereka memiliki jiwa karena mereka mencintai apa yang mereka tulis. Laskar pelangi tak kan spesial jika Andrea Hirata tak mengenal dan mencintai Bangka Belitong dan tulisan Agustinus Wibowo soal Afghanistan tak kan akan begitu mengena jika dia tak mencintai perjalananya mengunjungi negara tersebut. cinta adalah dorongan menggebu-gebu yang menjadi tenaga ketika mereka menuliskanya. Jika bukan karena itu, tentu menulis tak lebih sebagai beban untuk mencari pendapatan semata. 



Aq jadi teringat dengan seorang ulama besar ilmu hadist, Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani yang menulis kitab “Fathul Bari” selama 25 tahun. Ya 25 tahun! Tentu saja itu dilakukanya karena imanya dan kecintaanya pada Rasulullah Sallalahu Alaihi Wasalam. Dan kitab tersebut masih dijadikan acuan Hadist hingga hari ini (padahal selesai ditulis pada 842H). 

Aq akhirnya setuju dengan suamiku mengenai konsep lomba, aq takkan dengan sengaja menulis untuk sebuah ajang lomba. Artinya, keculai kalo aq punya stock tulisan yang sesuai dengan tema lomba, aq takkan ikut lomba. Aq ingin menuliskan hal-hal yang menggugah perasaanku, membuatku terus memikirkanya, dan membuatku menuliskanya dengan menggebu-gebu. Tentu saja aq akan berusaha menulis sesuatu yang bermanfaat, karena pada dasarnyanya jika seseorang tidak disibukan dengan sesuatu yang bermanfaat, dia pasti disibukan dengan maksiat. 

Aq tak mau memikirkan mengenai hasil apa yang akan kuperoleh dari tulisanku. Aq pun cukup tau diri untuk tidak berpikir menjadi seorang penulis buku/ penulis terkenal. Pokoknya aq menulis saja selama ada waktu, karena entah mengapa aq tak bisa meninggalkan menulis.

sumber:buzzfeed

Tidak ada komentar:

Posting Komentar