Sabtu, 23 Januari 2016

Mestakung?



“setelah berusaha dengan sungguh-sungguh, eh urusan A dimudahkan, wah mestakung nih!”

“pas butuh, pas dapet, mestakung banget dah!”

‘Mestakung’, kata yang cukup populer untuk menunjukan sebuah kondisi dimana masalah kita telah dimudahkan atau bahkan diselesaikan. Singkatan dari Semesta Mendukung. Ada yang belum paham konsep semesta mendukung? Intinya, itu adalah sebuah konsep dimana ketika seseorang menginginkan sesuatu dan berusaha secara bersungguh-sungguh, maka semesta akan bekerja untuk membantu orang itu meraih tujuanya. Atau kalau menurut situs AndrieWongso:



Super kan? 

Sebenarnya, ini bukan konsep baru. Sejak zaman kuliah konsep sejenis ini sudah pernah kubaca dari buku The Secret karangan Rhonda Byrne. Waktu itu aq hanya berpikir,”Wow! Manusia itu ternyata memiliki kemampuan yang luar biasa ya”. Sekarang, begitu aq membaca konsep ini lagi, maka komentarku “meh!”. Yup! “MEH!”. Dalam tulisan ini akan kujelaskan mengapa. Sebelumnya, salam damai dulu satu-satu bagi yang nggak setuju sama tulisanku ini.

Sebelumnya perlu aq jelaskan bahwa aq nggak peduli kalo yang mengucapkan/mempercayai konsep mestakung ini adalah teman-temanku yang nonmuslim, toh mereka memang tidak mempercayai Allah. Tapi aq merasa harus menuliskan hal ini bagi saudara-saudaraku yang seiman, sebab nasehat-menasehati adalah bentuk sayang sesama muslim. 

Nah, mari kita mulai dari beberapa hal yang ‘membuatku meh’ dari konsep mestakung ini: Pertama, konsep ini mengesankan bahwa pencapaian kita disebabkan oleh kehebatan dan kekuatan kesungguhan kita sendiri, sehingga kitalah yang mendorong alam semesta bergerak memenuhi keinginan kita. Kedua, konsep ini terkesan bertentangan dengan Tauhid Rububiyyah karena menafikan Allah sebagai zat yang menguasai dan mengatur alam semesta.

“Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa, (dan sujud pula) bayang-bayangnya diwaktu pagi dan petang hari.” (Qs. Ar-Ra’d [13]:15)

Saya tau apa yang akan Anda ucapkan, ‘Prof Yohanes Surya (penemu konsep mestakung) sama sekali nggak bermaksud menafikan peran Tuhan kok, baca aja situsnya!’. Ya, Aq baca kok tulisan dari situs beliau. Prof Yohanes Surya memang menekankan bahwa konsep mestakung tidak bertentangan dengan konsep tuhan, seperti paragraf yang saya kutip dari situs beliau berikut:

Dalam konsep mestakung, kita mengenal Tuhan sebagai pencipta Mestakung. Tuhanlah yang menciptakan semesta  yang dapat mengatur diri ketika suatu sistem disekitarnya berada pada keadaan kritis,  untuk membantu sistem itu keluar dari kondisi kritis. Disini peran Tuhan sangat jelas. Tanpa Tuhan tidak akan ada mestakung. Tanpa Tuhan tidak pernah ada konsep pengaturan diri sendiri yang begitu indah.

Pertanyaanya, darimana beliau tau cara kerja Tuhan (kalimat yang saya tebalkan) dalam mengabulkan keinginan kita? Apakah tuhan segampang itu diprediksi? ataukah ada satu ayat Al Qur’an yang menjelaskan konsep yang sejalan dengan kalimat yang saya tebalkan di atas?

Mungkin memang nalarku yang tidak sampai dengan logika orang secerdas Prof Yohanes Surya, tapi aq ingin menanyakan pada temanku yang muslim, apa yang salah dengan kalimat Insya Allah (jika Allah mengizinkan) ketika berencana dan Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) ketika apa yang kita inginkan tercapai? Apa yang salah dengan bertwakkal denga benar kepada Allah? Mengapa harus diganti mestakung-mestakung segala? Toh, kedua kalimat itu diajarkan oleh rasul kita yang mendapat petunjuk langsung dari Allah dan dengan mengucapkan kalimat itu kita mendapatkan pahala karena menjalankan sunnah beliau.

Aq tak mau berdebat, aq hanya ingin berbagi perasaan ‘meh’-ku mengenai konsep mestakung ini. Maaf jika anda kurang berkenan dengan tulisanku, tapi ketahuilah aq hanya khawatir anda (temanku yang muslim) sedang merancukan iman anda dengan kata-kata sejenis mestakung itu.

”Wahai Ibnu ’Umar, agamamu ! agamamu ! Ia adalah darah dan dagingmu. Maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambilnya. Ambillah dari orang-orang yang istiqamah (terhadap sunnah), dan jangan ambil dari orang-orang yang melenceng (dari sunnah)” [Al-Kifaayah fii ’Ilmir-Riwayah oleh Al-Khathib hal. 81, Bab Maa Jaa-a fil-Akhdzi ’an Ahlil-Bida’ wal-Ahwaa’ wa Ihtijaaj bi-Riwayaatihim, Maktabah Sahab].( Pesan nabi shallallaahu ’alaihi wasallam kepada Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar