Selasa, 26 Januari 2016

Maulidan



Belum lama ini, mushola dekat rumahku mengadakan acara Maulid Nabi. Aq nggak datang, karena aq tidak merayakan Maulid Nabi, selain itu aq juga nggak tau bahwa hari itu ada maulidan (eh!). Iya, aku mengikuti pendapat kelompok yang ‘memecah belah’ umat itu. Terserah (sayur) lodeh mau bilang apa. Tapi aq mau menjelaskan sedikit mengapa aq tak maulidan:
  1. Perayaan Maulid tidak dikerjakan oleh para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Padahal kecintaan mereka pada Nabi sangatlah besar, mereka rela menjadikan leher mereka sebagai pelindung leher Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Begitu juga imam 4 madzhab (Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Malik, Al-Imam As-Syafi'i, dan Al-Imam Ahmad) , sama sekali tidak diriwayatkan bahwa mereka merayakan maulid Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
  2. Kegiatan maulid nabi terkadang dibarengi dengan kemungkaran-kemungkaran seperti, ikhtilat (bercampurnya) lelaki dan wanita dan lagu kasidahan yang disenandungkan oleh suara wanita disertai musik.
  3.  Bahkan qosidah itu mengandung pujian yang berlebih-lebihan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, seperti qosidah Burdah karya Al-Bushiri : Sesungguhnya diantara kedermawananmu adalah dunia dan akhirat dan diantara ilmumu adalah ilmu lauhil mahfuz dan yang telah dicatat oleh pena (yang mencatat di lauhil mahfuz apa yang akan terjadi hingga hari kiamat) . Hal ini jelas merupakan kesyirikan dan menyamakan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan  Allah. Karena hanya Allah lah yang mengetahui ilmu lauhil mahfuz, pengucap syair ini telah mengangkat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga pada derajat ketuhanan dan ini merupakan kekufuran yang nyata.
  4. Acara perayaan kelahiran Nabi pada hakekatnya tasyabbuh (meniru-niru) perayaan hari kelahiran Nabi Isa yang dilakukan oleh kaum Nashrani. Padahal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda "Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut".
  5. Bukankah sunnah-sunnah dan ibadah-ibadah yang jelas-jelas datang dari Nabi sangatlah banyak? Dan bukankah salah seorang dari kita tidak akan mampu untuk melaksanakan seluruh ibadah-ibadah tersebut?Lantas mengapa kita harus bersusah payah untuk memunculkan model-model ibadah yang baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya?
Begitulah sedikit alasan mengapa  aq tidak maulidan. Tapi, berhubung rumah aq deket dengan mushola, mau nggak mau terdengarlah apa yang diucapkan ustadz pada hari itu. Berikut kurang lebih pembuka ceramah beliau:

“Bu ibu, ada kelompok tertentu yang mengatakan acara Maulid Nabi itu Bid’ah, tidak boleh dikerjakan. Padahal mengadakan Maulid ini sunnah ibu-ibu! Nabi mengatakan ‘Hari Senin adalag hari aku dilahirkan,’ karena itu Nabi senang berpuasa di hari Senin.  Maka merayakan hari kelahiran Nabi berarti mengikuti sunnah beliau. Memang, nabi merayakanya dengan berpuasa, dan acara ceramah sambil makan seperti kita ini Bid’ah, tapi kan mengingat nabi itu baik. Apalagi zaman sekarang, orang makin tidak mengenal Nabinya, moment Maulid inilah salah satu upaya kita mengingat Nabi.”

Aq senyum deh dengerin omongan ustadz. Jadi pingin nanya nih,
  • 1.      Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan bahwa Beliau lahir hari Senin, lalu darimana datangnya tanggal 12 Rabiul Awal ditetapkan sebagai tanggal lahir Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam? Bukankah ahli sejarah berbeda pendapat mengenai tanggal lahir Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam? Dan lagi, jika Nabi mengingat hari lahirnya setiap minggu, mengapa kita merayakanya sekali setahun?
  • 2.      Dari penjelasan Pak Ustadz di atas, ada nggak yang bisa kasih kesimpulan apa hukum acara Maulidan yang sedang berlangsung itu? Sunnah atau Bid’ah? Ataukah Bid’ah Hasanah? 

"Maukah kalian mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?" [Al-Baqarah: 61]


daftar pustaka :www.firanda.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar