Jumat, 15 Januari 2016

'Jaminan' yang Masih Harus Dijaminkan



Apa hal paling menakutkan di dunia ini bagi anda? Jika saya mengatakan bahwa salah satu hal yang paling menakutkan adalah ketidakpastian akan kejadian di masa depan, saya yakin cukup banyak orang yang setuju. Kecelakaan, penyakit, bencana, biaya hidup yang melambung, dan sebagainya dan sebagainya. Ketakutan ini semakin meningkat seiring dengan maraknya penawaran ‘penjamin’ masa depan seperti asuransi, tabungan berjangka, dan kredit ini-itu. Produk-produk ini begitu primadona dan populer, sehingga jenisnya terus berkembang dan berkembang menyesuaikan kebutuhan gaya hidup masa kini. Biaya pendidikan semakin mahal? Ikut tabungan pendidikan. Biaya berobat mahal? Ikut asuransi kesehatan. Takut properti terbakar/tertabrak? Ikut asuransi kecelakaan. Takut tulang punggung keluarga meninggal? Ikut asuransi jiwa. Masa tua tak jelas? Ikut tabungan/investasi berjangka. Yup! Produk keuangan itu berusaha menjamin semua kemungkinan terburuk di masa depan.  Bagi yang tak terlalu khawatir dengan bencana dan sebagainya, akan ditakut-takuti dari pintu yang lain lagi. Pernah dengar kalimat, tanah/properti makin tahun makin mahal, harganya naik terus, kalo nggak ambil sekarang rugi, ntar dapatnya tanah paling pelosok-sepelosok-pelosoknya. Dan sebagainya dan sebagainya yang mengesankan bahwa memiliki property itu darurat banget deh pokoknya.

Semakin kesini, saya merasa upaya menakut-nakuti itu semakin gencar dengan kalimat yang semakin beragam. Dan sayangnya, cukup banyak yang termakan dengan kalimat-kalimat yang sebenarnya bertujuan komersil itu. Tak sedikit saya mendengar kalimat, ‘tau nggak, adek ipar-sepupunya-  temanya-teman  aq, suaminya meninggal padahal usianya masih muda anaknya ada 6 kecil-kecil pula, coba kalo dia ikut asuransi jiwa, kan lumayan.’ Atau kalimat, ‘jaman sekarang kalo nggak kredit, mana bisa beli ini itu’. Pertanyaanya, apakah rejeki Allah sesempit itu? Tapi kalo dibilangin hukum Islam soal asuransi, dan bahaya riba, jadinya debat panjang-pendek nggak karuan. Terus ujung-ujungnya nantangin,’jadi jalan keluarnya gimana?’. Emang yang ngasih rejeki gue dan temen-temen gue ?

Saya meyakini 100% bahwa jika seseorang ditakdirkan memiliki sesuatu (Alpahrd misalnya), maka dia akan memilikinya baik dia membelinya secara kredit atau tidak. Tapi, kalo dia tidak ditakdirkan untuk memilikinya, mau dia kreditan dan selalu punya penghasilan tetap sekalipun, Alphard itu tak akan menjadi miliknya. Ingat, rezeki, umur, dan jodoh telah tertulis dan tinta yang menuliskanya telah kering. Tapi kalimat saya yang barusan sudah begitu klise bagi masyarakat kebanyakan. Karena itu, saya ingin mencantumkan sebuah kisah salah seorang sahabat nabi berikut,

Diriwayatakan dari Imam ‘Ali Radhiallahu 'anhu, bahwa beliau masuk masjid Kufah. Sebelum shalat beliau menitipkan hewan tunggangannya kepada seorang anak laki-laki. Setelah selesai shalat, beliau mengeluarkan uang satu Dinar untuk diberikan ke anak laki-laki itu. Tapi beliau mendapati anak laki-laki itu telah pergi sambil membawa tali pengikat hewan tunggangan yang dititipkan padanya. Lalu Imam ‘Ali Radhiallahu 'anhu menyuruh seseorang  untuk membeli tali pengikat hewan tunggangannya dengan harga satu Dinar. Laki-laki itu melakukannya dan kembali sambil membawa tali pengikat hewan tunggangan untuk beliau. Ketika itu Ali berkata, “Mahasuci Allah. Itu adalah tali pengikat hewan tungganganku.” Laki-laki itu berkata, “Aku membelinya dari anak itu satu Dinar.” Imam ‘Ali berkata, “Mahasuci Allah. Aku hendak memberinya rezeki halal tapi ia tidak mau dan memilih mengambil yang haram!”

Ah, tapikan nggak ada salahnya menyiapkan masa depan? Mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk kan perlu juga! Mungkin begitu komentar sebagian orang. Dan saya setuju dengan statement tersebut. Tapi coba perhatikan dimana kita meletakan rasa aman kita. Seperti yang saya katakan sebelumnya, jika harta/jaminan itu tidak ditakdirkan menjadi milik anda, maka semua itu akan hilang. Tak percaya? Baik, mari saya ingatkan kejadian tahun 1997 dan 1999, ketika bank-bank di Indonesia -yang menurut orang awam bonafid- dilikuidasi.  Berapa banyak nasabah yang kehilangan uangnya karena tabunganya tidak termasuk kelompok yang dijamin oleh LPS? Belum lagi yang simpananya berupa investasi, sehingga tidak ditanggung sama sekali oleh LPS? Berikut satu contoh kasus yang saya kutip dari tempo,

Sebaliknya dengan Hok Seng, 45 tahun, pengusaha retail yang menyimpan sejumlah Rp 400 juta di BHS. Menurutnya ia memang apes, pasalnya sejak dua minggu lalu ia sudah berniat memindahkan uangnya ke Bank Bira. Hanya batal, karena petugas polisi yang dimintanya untuk mengawal uang terlambat tiba, sehingga kasir terlanjur tutup. Lantas ketika depositonya jatuh tempo pada 25 Oktober lalu, Hok Seng tidak dapat mengambilnya, karena saat itu hari Sabtu, dan kas tutup. Hok Seng mulai merasa curiga ketika ia berniat mengambil uangnya, Senin (27/10), pihak BHS Bank berniat memotong uangnya sebesar 25 persen.

Dan ada satu konsep yang harus diingat soal jaminan-jaminan ini, bahwa jaminan itu perlu dijaminkan lagi supaya terjamin. Haha.. Maksudnya? Begini, anggaplah anda mengikuti simpanan berjangka, itu loh yang tiap bulan dibayar teratur tapi nggak boleh ditarik sampai tahun tertentu, kalo ditarik sebelumnya maka tabungan anda akan dipotong sekian persen. Sekarang saya tanya deh,siapa yang bisa menjamin anda selalu memiliki uang untuk menyetor ke simpanan tersebut selama jangka waktu yang ditentukan? Bagaimana jika dari 8 tahun perjalanan anda, anda tiba-tiba tidak memiliki uang di tahun ke dua? Berikut contoh kasusnya di link ini, dimana beliau sudah menabung selama 17 bulan dengan total tabungan 8,5 juta, dan karena tidak sanggup melanjutkan, maka beliau memutuskan untuk menutup akunnya. Dan ternyata tabunganya menguap >90% dan kembali 400ribu saja karena kurang dari 2 tahun. Berarti kesimpulanya supaya anda bisa konsisten untuk membayar ‘jaminan’ hari tua anda, anda perlu jaminan untuk selalu sanggup menyetor bukan? 

Jika begitu, apa yang pasti bisa menjamin kita di dunia ini? Mari saya ingatkan kembali kisah Nabi Sulaiman yang ingin memberi makan seluruh hewan di dunia ini: 
Syeikh Muhammad bin Ahmad bin ‘Iyas pengarang kitab Bada’i al Zuhur fi Waqa’i al Duhur memetik kisah yang dinukilkan Syeikh Abd Rahman bin Salam al Muqri dalam kitab al Aqa’iq, bahwa Nabi Sulaiman alaihissalaam meminta izin kepada Allah untuk memberi makanan kepada semua makhluk untuk sehari saja. Maka, Nabi memerintahkan jin dan manusia membawa semua bahan makanan yang ada di muka bumi yang untuk mengumpulkanya diperlukan waktu hingga sebulan lamanya. Setelah semuanya beres, kesemua makanan ini disajikan. Maka Allah memerintahkan seekor ikan muncul untuk dijamu makanan itu. Kemudian dalam sekali suap ikan tersebut menyantap habis semua hidangan yang disajikan. Ikan itu pun berkata, “Hai Sulaiman, berikan aku makanan lagi, aku masih belum kenyang.” Jawab Nabi Sulaiman alaihissalaam, “Engkau sudah memakan semuanya dan engkau masih belum kenyang?”. Ikan itu menjawab pula, “Ketahuilah, setiap hari aku mendapat 3 kali ganda makanan daripada apa yang telah engkau sediakan hari ini.” 
Allah mampu untuk memberi rezeki pada tiap makhluk di dunia ini, semuanya tanpa terkecuali. Lalu, mengapa kita masih dipenuhi dengan kekhawatiran-kehawatiran?
Sebagai penutup, saya ingin menekankan bahwa tulisan ini sama sekali tidak menentang konsep menabung, saya hanya ingin meningatkan bagaimana mindset kita menghadapi masa depan. Dimana seharusnya kita meletakan perasaan takut kita, pada angan-angan tentang masa depan atau pada kemarahan Rabbnya.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar