Kamis, 17 Desember 2015

Pengalaman Menyapih Bgs



Akhir November kemaren, usia Bagas genap 2 tahun. Artinya, suka-nggak suka aq harus nyapih dia. Ini adalah moment yang cukup bikin aq deg-degan sekaligus males mikirinya. Soalnya, Bagas nggak terlalu suka susu bubuk, sehari paling minum 1-2 botol doank selebihnya minum asi (Hemat beib!). Otomatis aq dan si mas rada khawatir gimana rewelnya Bagas kalau tiba-tiba nggak boleh nyusu lagi. 

Jadi demi menyukseskan program sapih-menyapih ini, suami pun berinisiatif untuk cuti demi bantu aq menghadapi kerewelan Bagas. Kami memutuskan memakai sistem mendadak berhenti dengan cara mengoleskan brotoali. Aq baca dan denger sih dari beberapa ibu, bahwa mereka nggak tega ngasih brotoali/pahit-pahitan ke anaknya, malahan ada yang pake metode ‘weaning with love’-metode menyapih secara bertahap dengan terus-menerus mengatakan pada anak dengan lembut untuk berhenti menyusu, alias nggak pake pahit-pahitan. Tapi aq kayaknya nggak yakin bisa bersabar menyapih secara pelan-pelan seperti itu. Lagian aq sebenernya cukup menikmati menyusui bagas sampai 2 tahun (walau kadang bete juga kalo dy ngempeng kelamaan).  

Jadi dalam bayangan aq menyapih itu simple, kasih brotoali-bagas kepahitan-gak mau nyusu lagi- akhirnya minum susu. Aq kira masalah terberatnya, kerewelan Bagas aja. Ternyata saya salah saudara-saudara! Bukan cuma Bagas yang menderita pada proses sapih-menyapih ini, tapi emaknya juga! Rupanya, menyapih itu sangat tidak nyaman dan sakit. Hal ini disebabkan asi produksi terus, sementara penyaluranya nggak ada. Hasilnya, bengkak dan perih.


Hari pertama menyapih sakitnya belum seberapa, aq malahan asik santai-santai karena tiap Bagas minta asi diajak abinya pergi atau dialihkan perhatianya. Hari kedua, kepala pening, perut mual, dan sakitnya mengganggu. Aq cari info di google, dapet saran untuk ngeluarin asinya sedikit-sedikit supaya lebih nyaman, minum teh sage dan vitamin B6 untuk mengurangi produksi asi. Tapi, setelah dicoba keluarin, rasanya tetep nggak nyaman. Akhirnya, suami nelpon kakak ipar yang udah punya anak. Katanya, ketika menyapih, asi justru jangan dikeluarkan dengan sengaja, karena nanti akan keluar sendiri. Kupikir-pikir benar juga, kalau aq keluarin asi tiap merasa nggak nyaman, asi aq nggak berkurang-kurang donk, soalnya tubuh memperbanyak produksi asi tiap ada pengeluaran. Dan ternyata, memang benar! Setelah asi keluar sendiri, baru aq merasa agak nyaman. Walaupun proses menunggu asi keluar sendiri itu sangat tidak nyaman. Ah, terkadang info-info begini lebih oke dari yang udah berpengalaman dibanding mbah google. Haha.. (Btw aq nggak minum teh sage soalnya nggak ada yang jual di Pekanbaru)

Setelah aq ceritain 'penderitaan'-ku, sekarang aq mau ceritain dari sisi Bagasnya. Setelah berkali-kali dialihkan perhatianya oleh abinya setiap kali minta asi, akhirnya Bagas bener-bener ngotot minta nyusu. Tapi, setelah dia merasakan pahitnya brotoali, dia pun mau minum susu bubuk. Untungnya dia nggak nangis walaupun nggak bisa nyusu, cuma mukanya sedih gitu. Cuma dua kali Bagas ngotot minta nyusu, setelah itu dia inget bahwa asi uminya udah pahit dan nggak minta lagi. Bahkan, di malam hari pas mau tidur dia nggak minta asi, cuma minta ummynya ‘nembang’ sambil belai-belai dia. Umminya yang malahan mewek dan nangis karena sedih. Haha..Tapi, pas terbangun tengah malam baru dia nangis keras. Wajar sih, walaupun secara logika dia ingat bahwa asi ummynya udah pahit, tapi alam bawah sadarnya butuh kenyamanan dari menyusu. Disaat itu kita mesti pandai-pandai kasih kenyamanan yang yang anak butuhkan. Akhirnya, dia tidur lagi di perutku, setelah dibujuk minum susu kotak.
Syukurnya, kerepotan menyapih anak berada di tiga hari pertama saja. Malam ke empat, Bagas bahkan nggak minta nyusu lagi tapi minta ‘bobok di perut ummy’ dan rasa sakit/nggak nyaman yang aku alami juga sudah jauh berkurang.
Setelah disapih, Bgs justru bisa tidur sendiri tanpa rewel, tidurnya juga lebih nyenyak, lebih gampang suapin makannya, dan untungnya nggak jadi ketagihan susu bubuk. Pokoknya secara keseluruhan dia jadi lebih mandiri, bahkan dia sering ngulang-ngulang kalimat,’Bagas udah besar, udah 2 tahun’. Hiks! Iya nak, Bagas udah besar ;(

setelah disapih,bangun tidur langsung cukai kopi ummy :D



-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar