Jumat, 27 November 2015

These Happy Golden Years


Ada beberapa buku yang saya baca lagi, lagi, dan lagi tanpa pernah merasa bosan. Diantara buku-buku tersebut, salah satu judul terfavorit saya adalah Tahun-Tahun Bahagia atau These Happy Golden Years (versi  Amerika) karangan Laura Ingalls Wilder. Buku ini merupakan salah satu judul dari seri Little House yang merupakan buku klasik Amerika, yang masih terkenal  hingga saat ini. These Happy Golden Years pertama kali diterbitkan pada tahun 1943, yang menceritakan kisah hidup penulis sendiri  saat ia masih seusia gadis remaja, sekitar tahun 1885. Yup! buku ini menceritakan perjalanan kehidupan manusia 130 tahun yang lalu, benar-benar sebuah kisah klasik bukan?


Seri little house mungkin dapat dikatakan buku klasik yang terpopuler hingga saat ini. Seri ini telah dicetak ulang beberapa kali dan memenangkan award nyaris disetiap judulnya.  Seri Little House juga  diangkat menjadi beberapa acara televisi dan kartun animasi, salah satunya berjudul Little House On The Prairie  pada tahun 1974. Acara televisi ini disambut dengan antusias oleh masyarakat, dan bertahan di layar kaca selama 10 tahun. Hal ini menjadikan Seri Little House dikenal dan diminati dari generasi ke generasi. Bahkan rumah-rumah yang pernah ditempati Laura Ingalls semasa hidupnya masih dirawat dan dijadikan museum yang dapat dikunjungi oleh pecinta serial Little House.



Rumah-rumah Laura yang dijadikan museum
Seri Little House terdiri dari 10 judul, yang berisikan perjalanan hidup Laura Ingalls Wilder sejak ia kecil hingga memiliki anak. Buku These Happy Golden Years merupakan kisah Laura ketika ia telah menetap di De Smet dan berada pada rentang usia 15 hingga 18 tahun. Pada buku ini diceritakan bagaimana Laura mulai mengajar sebagai guru sekolah. Kondisi sekolah di Amerika pada masa itu tentu saja jauh berbeda dengan sekolah sekarang. Saat itu sekolah hanya terdiri dari satu ruang kelas dengan murid-murid yang berbeda tingkatan, belajar pada waktu yang sama. Jumlah murid Laura sendiri kurang dari 10 orang dan Laura hanya mengajar selama 3 bulan setiap tahunya. Hal ini disebabkan karena dimasa itu anak-anak hanya bersekolah di musim dingin, sementara musim semi hingga musim gugur digunakan untuk membantu keluarga menggarap lahan pertanian.

Sekolah Laura yang pertama berlokasi lebih kurang 19 km dari tempat tinggalnya. Jarak yang cukup jauh jika harus ditempuh setiap hari dengan menggunakan kereta kuda, karena itu Laura harus menumpang di rumah salah seorang warga setempat. Sayangnya, ibu pemilik rumah tempat Laura menginap tidak bersikap ramah padanya. Untung Laura masih dapat pulang ke rumahnya tiap akhir minggu, karena seorang pemuda bernama Almanzo Wilder bersedia mengantar dan menjemputnya. Hal inilah yang menjadi awal kedekatan Laura dan Almanzo.

Pada buku These Happy Golden Years diceritakan bagaimana perjalanan kisah percintaan Laura dan Almanzo hingga akhirnya mereka menikah.  Jangan mengharapkan kisah cinta menggebu-gebu dan lebay seperti novel percintaan di masa kini. Perjalanan cinta Laura dan Almanzo dapat dikatakan sederhana namun terasa romantis dan indah. Tentu saja kisah mereka tidak selalu mulus sehingga membosankan untuk dibaca, ada juga gangguan seperti Neli Oleson teman sekelas Laura yang juga menaruh hati pada Almanzo. Kemunculanya di tengah-tengah hubungan Laura dan Almanzo serta bagaimana Laura menghadapinya menjadi bagian yang asik untuk dibaca.

Berikut Salah satu petikan kisah hubungan Laura dan Almanzo yang selalu membuat saya tersenyum di dalam buku These Happy Golden Years,
“Aku berpikir...” Almannzo berhenti. Kemudian ia memegang tangan Laura yang tampak putih gemilang di cahaya bulan. Tangannya yang coklat hangus oleh matahari membungkus lembut tangan Laura. Belum pernah hal itu dilakukan sebelumnya. “Tanganmu begitu mungil”, katanya lagi. Ia berhenti lagi. Kemudian ia berbicara agak cepat. “Aku berpikir, apakah kira-kira kau suka bila diberi cincin pertunangan.”
“Tergantung dari yang memberikanya,’’ kata Laura.
“Kalau aku yang memberikanya?” tanya Almanzo.
“Kalau begitu tergantung dari cincinya,” kata Laura dan menarik tanganya.

Seri Little House memang menceritakan kejadian hidup sehari-hari yang sepertinya tidak terlalu special untuk disimak. Tapi justru dari kejadian sehari-hari itulah selalu muncul kejadian menarik dan indah untuk diceritakan. Seri ini juga mengajak imajinasi kita untuk membayangkan kehidupan manusia satu abad yang lalu. Dan berkat penjabaran Laura yang detail, kita dapat memasuki sebuah zaman yang tidak terbayangkan oleh kita sebelumnya. Saya sendiri jadi merenung bagaimana rasanya hidup tanpa listrik, menjahit baju sendiri, mengenakan baju dengan kawat di dalam gaun agar terlihat mengembang (tren saat itu), membuka lahan pertanian, berpergian dengan kereta kuda dan hal-hal lainya. Pastinya sebuah gaya hidup yang sangat berbeda dengan yang kita jalani di masa kini yang serba cepat dan instan. 

Berikut contoh penjabaran Laura yang mampu membuat pembaca ikut masuk di dalam kisahnya:

Ia berkata bahwa ia dan adiknya masing-masing menaiki seekor keledai, berpacu pulang saat tiba-tiba saja mereka dihantam oleh angin puting beliung. Keduanya diangkat ke langit, diputar-putarkan, dan tetap berdampingan sebab kedua keledai tadi masih disatukan oleh pasangan yang biasanya dipasangkan pada gerobak, mereka diputarkan, makin lama makin cepat, makin lama makin tinggi hingga si kakak merasa sangat pusing. Ia berteriak kepada adiknya agar berpegang erat-erat pada keledainya. pada saat itulah tiba-tiba udara di sekeliling mereka gelap karena jerami gandum yang berterbangan di udara. Begitu gelap hingga ia tak bisa melihat apa-apa. Ia merasakan suatu guncangan keras, tali-temali keledainya putus, pakaian dan pasangan keledai itu hancur! Kemudian ia mungkin pingsan. Ia tak sadarkan diri. Tahu-tahu ia telah berada sendirian di angkasa yang jernih. Ia bisa melihat tanah di bawahnya. Ia dibawa berputar-putar, makin lama makin rendah sampai akhirnya tak jauh di atas permukaan bumi. Ia mencoba meloncat dan akhirnya berhasil menjejakkan kaki ke tanah, berlari, berlari terus, dan terjatuh. Setelah tergeletak beberapa lama dan beristirahat, ia bangkit dan pulang. (kisah seorang anak di De Smet yang terseret angin puting beliung, halaman 345)

Disamping menarik, kisah hidup Laura juga sarat akan nilai positif serta pentingnya arti keluarga. Nilai-nilai seperti kerja keras, kesabaran, ketekunan, dan kemampuan bersyukur merupakan pesan tersirat dari kisah perjalanan hidup Laura ini. Salah satu contohnya adalah ketika Laura bersabar bekerja menjadi guru –meski hal itu tidak terlalu disukainya - agar dapat menolong perekonomian keluarganya. Ia bahkan memberikan seluruh gajinya untuk membantu membeli organ bagi Mary, kakaknya yang buta. 

Seluruh judul seri Little House, merupakan karya sastra yang bagus dan menarik untuk dibaca. Namun These Happy Golden merupakan judul terfavorit saya. Sesuai dengan judulnya, buku ini memuat banyak moment bahagia dihidup Laura. Apalagi moment awal kedekatan Laura dan Almanzo. Bukankah moment manis-getir ketika seseorang sedang jatuh cinta merupakan kisah yang selalu menarik untuk dibaca?

Bagi anda yang juga senang dengan kisah romantis-tapi nggak lebay-seperti saya, maka saya sangat merekomendasikan buku ini. Sayangnya, cetakan berbahasa Indonesia sudah tidak diterbitkan lagi. Tapi jangan berkecil hati dulu, karena These Happy Golden Years versi Amerika masih dapat anda dapatkan di Bukupedia . Saya sendiri tertarik untuk membeli seluruh judul Seri Little House yang belum saya miliki, di Bukupedia. Daripada repot-repot mencari versi Indonesia entah dimana. Saat ini koleksi saya terdiri dari lima judul yang saya dapatkan setelah bersusah payah mencari di toko buku bekas atau fotocopy buku perpustakaan. Kesannya niat banget ya? Buku bagus emang harus seniat itu ngumpulinya..hehe..

koleksi little house saya
Note: Saya nggak menganjurkan untuk memfotocopy buku ya, waktu itu masih SMA jadi belum peduli dengan konsep hak cipta.. :)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar