Kamis, 15 Oktober 2015

Muharram 1437 H

-3 Muharram 1437 H
Isilah usiamu dgn ketaatan, dan realisasikan ucapanmu dgn perbuatan, karena umur manusia yg sesungguhnya adalah yg ia isi dgn ketaatan kepada Allah-Asy Syaikh Utsaimin Rahimahullah
-13 Muharram 1437 H
Apabila engkau hendak tidur, berwudhulah sebagaimana wudhu ketika hendak sholat
-14  Muharram 1437 H
Al-Quran adalah penyembuh bagi semua penyakit hati. Baik berupa penyakit syahwat yang menghalangi manusia untuk taat kepada syariat. Atau penyakit Syubuhat, yang mengotori aqidah dan keyakinan. Karena dalam al-Quran terdapat nasehat, motivasi, peringatan, janji, dan ancaman, yang akan memicu perasaan harap dan sekaligus takut, bagi para hamba.
Jika muncul dalam perasaannya, motivasi untuk berbuat baik, dan rasa takut untuk maksiat, dan itu terus berkembang karena selalu mengkaji makna al-Quran, itu akan membimbing dirinya untuk lebih mendahulukan perintah Allah dari pada bisikan nafsunya. Sehingga dia menjadi hamba yang lebih mencari ridha Allah dari pada nafsu syahwatnya.


Demikian pula berbagai hujjah dan dalil yang Allah sebutkan dengan sangat jelas. Ini akan menghilangkan setiap kerancuan berfikir yang menghalangi kebenaran masuk dalam dirinya dan mengotori aqidahnya. Sehingga hatinya sampai pada puncak derajat keyakinan.
Ketika hati itu sehat, tidak banyak berisi penyakit syahwat dan syubhat, keadaannya akan diikuti oleh anggota badannya. Karena anggota badan akan jadi baik, disebabkan kebaikan hati. Dan menjadi rusak, disebabkan rusaknya hati.
(Tafsir as-Sa’di, hlm. 366)
-15  Muharram 1437 H
Kemusyrikan dalam ngalap berkah
Ngalap berkah itu terhitung kemusyrikan dalam dua kondisi:
Pertama, jika berkeyakinan bahwa benda yang diambil berkahnya itu sendiri yang memberi pengaruh manfaat atau kebaikan yang diharapkan. Ngalap berkah dalam kondisi ini adalah kemusyrikan besar.
Kedua, tidak berkeyakinan bahwa benda tersebut memberi pengaruh manfaat dengan sendirinya. Tindakan ngalap berkah jenis ini memiliki dua bentuk:
 1. Ngalap berkah dari benda yang bukan benda yang mengandung keberkahan. Ngalap berkah dalam kondisi ini adalah kemusyrikan kecil.
2. Memposisikan benda yang diizinkan untuk dicari berkahnya lebih dari posisi seharusnya yang dibenarkan oleh syariat. Ngalap berkah dalam kondisi ini juga tergolong kemusyrikan kecil. Oleh karena itu orang yang ngalap berkah dengan benda yang diizinkan untuk dicari berkahnya namun dengan cara ngalap berkah yang tidak dibenarkan oleh syariat maka dia terjerumus dalam syirik kecil jika pelaku ngalap berkah tidak menyakini bahwa benda itu sendiri yang memberi pengaruh atau memberi manfaat.
 Contoh kasus:
Jika ada orang yang mengambil debu suatu tanah lalu dijadikan sebagai bahan campuran adukan semen untuk membangun sebuah rumah dalam rangka mencari keberkahan dengan debu tersebut tanpa menyakini bahwa debu tersebut bisa memberi pengaruh atau manfaat dengan sendirinya maka orang ini telah melakukan syirik kecil.
Demikian pula seorang yang memanfaatkan benda-benda tertentu yang dinyatakan oleh syariah mengandung keberkahan namun benda tersebut diletakkan lebih dari posisi seharusnya maka orang tersebut juga terjerumus dalam kemusyrikan kecil. Contoh benda yang dinyatakan syariat mengandung berkah adalah air zamzam. Oleh karena itu jika ada orang yang minum air zamzam dan hatinya terkait dengannya demikian kuat melebihi kadar keterkaitan hati dengan sebab yang diizinkan oleh syariat maka dia telah terjerumus dalam syirik kecil.
sumber:muslim.or.id

-19  Muharram 1437 H
Ketua Komisi Fatwa di Saudi Arabia (Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’) di masa silam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz ditanya, “Aku ingin mengetahui bagaimana hukum ucapan ‘selamat pagi’ (shobahul khoir), apakah diperbolehkan?”
Syaikh Ibnu Baz rahimahullah menjawab,
Ucapan selamat pagi (shobahul khoir) adalah ucapan yang tidak kuketahui maksudnya, begitu pula ucapan selamat sore (masa-ul khoir). Seharusnya seorang muslim mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum” terlebih dahulu. Lalu setelah itu sah-sah saja mengucapkan selamat pagi atau selamat sore, atau ia menanyakan ‘bagaimana kabar Anda di pagi atau di sore ini?’ Sedangkan memberi ucapan selamat pagi (shobahul khoir) atau selamat sore (masa-ul khoir), aku tidak mengetahui asal muasal ucapan tersebut dan aku pun tidak mengetahui apa maksudnya.
Mungkin saja maksud kalimat tersebut, semoga Allah memberi engkau kebaikan di pagi ini. Atau maksudnya semoga Allah menurunkan kebaikan di pagi ini. Menggunakan kalimat tanya seperti ‘kayfa ash-bahta’ (bagaimana kabarmu di pagi ini) atau ‘kayfa amsayta’ (bagaimana kabarmu di sore ini), atau dengan kalimat do’a ‘shobahakallahu bilkhoir’ (semoga Allah memberi kebaikan di pagi ini untukmu) atau ‘masakallahu bilkhoir’ (semoga Allah memberi kebaikan di sore ini untukmu) boleh saja, namun kalimat-kalimat tersebut diucapkan setelah ucapan salam “assalamu ‘alaikum” atau “assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh”, itu yang lebih afdhol. … Semua bentuk ucapan tadi baik karena menunjukkan perhatian pada saudara kita. (Sumber fatwa di website pribadi Syaikh Ibnu Baz)

-20  Muharram 1437 H 
Makmum Masbuq Waktu Tahiyat Akhir, Buat Jamaah Baru?
Saat Imam Tahiyyat Akhir, Makmum Masbuq Ikut Bergabung Atau Membuat Jama’ah Baru?
Sebagian orang ketika terlambat datang ke masjid, mendapati imam sudah dalam posisi akhir shalat, misalnya duduk tahiyyat akhir. Maka timbullah pertanyaan, apakah sebaiknya ia langsung bergabung dalam jama’ah walau hanya sesaat ataukah membuat jama’ah baru?
Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.
Pendapat pertama,
Bahwa yang afdhal adalah menunggu sampai imam selesai salam, lalu berjama’ah dengan orang lain yang juga terlambat shalat (membuat jama’ah baru).
Dalil pendapat ini, antara lain:
Hadits dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ
“Barang siapa mendapatkan satu raka’at shalat, maka ia telah mendapatkan shalat (berjama’ah).”
(HR. Al-Bukhari no. 580, Muslim no. 1401, Abu Daud no. 1123, An-Nasai no. 552)
Hadits dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصُّبْحِ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصُّبْحَ
“Barang siapa mendapatkan satu raka’at shalat Subuh sebelum terbit matahari, maka ia telah mendapatkan shalat Subuh (berjama’ah).”
(HR. Al-Bukhari no. 579, Muslim no. 1404, Abu Daud no. 412, An-Nasai no. 513, At-Tirmidzi no. 186, lafazh hadits di atas milik Muslim)
Berdasarkan dalil-dalil di atas, maka makmum masbuq yang mendapati imam dalam posisi akhir shalat tidak perlu bergabung dengan jama’ah, karena kurang dari satu raka’at. Hendaknya ia membuat jama’ah baru supaya ia mendapatkan pahala jama’ah (25-27 kali lipat).
Pendapat kedua,
Bahwa yang afdhal adalah langsung masuk dan ikut bersama jama’ah yang ada walau hanya sesaat, seperti duduk tahiyyat akhir.
Dalil pendapat ini, antara lain:
Hadits dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَدْرَكَ سَجْدَةً مِنْ الصُّبْحِ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَهَا
“Barang siapa mendapatkan satu sujud shalat Subuh sebelum terbit matahari, maka ia telah mendapatkan shalat Subuh (berjama’ah).”
(HR. An-Nasai no. 549, Ahmad no. 10397)
Sekalipun hanya sekedar bagian akhir shalat, jika itu bersama imam maka itu termasuk shalat berjama’ah.
Hadits dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ تَأْتُوهَا تَسْعَوْنَ ، وَأْتُوهَا تَمْشُونَ عَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا ، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا
“Jika shalat telah didirikan (terdengar iqamat), maka janganlah mendatanginya dengan berlari+ (tergesa-gesa). Dan datangilah shalat itu dengan berjalan tenang. Apa yang kamu dapati dari imam, maka kerjakanlah sepertinya, dan apa yang terlewatkan darimu maka sempurnakanlah.” (HR. Bukhari no. 908 dan Muslim no. 151)
Perkataan Nabi فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا (apa yang kamu dapati dari imam, maka kerjakanlah sepertinya) menunjukkan adanya perintah bagi orang yang terlambat berjama’ah untuk mengikuti imam, dalam kondisi apapun imamnya.
Hadits dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu:
سَأَلْتُ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ ؟ قَالَ: الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا.
“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.”.”
(HR. Bukhari no. 527, Muslim no. 264, An-Nasai no. 609, At-Tirmidzi no. 170, Ahmad no. 3967)
Perkataan Nabiالصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا (shalat pada waktunya) lebih utama daripada yang selainnya. Di antara bentuk shalat pada waktunya adalah shalat bersama jama’ah pertama. Karenanya, jama’ah pertama lebih utama daripada jama’ah yang berikutnya.
Hadits dari sahabat Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Shalat seseorang bersama satu orang yang lain lebih baik daripada shalatnya sendirian. Dan shalatnya bersama dua orang lebih baik daripada shalat bersama satu orang. Semakin banyak yang shalat bersamanya semakin disukai Allah.”
(HR. An-Nasai no. 842, Ahmad no. 21868, dan lainnya)
Perkataan Nabi (وَمَا كَانُوا أَكْثَرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ) (semakin banyak yang shalat bersamanya semakin disukai Allah) menunjukkan bahwa langsung ikut shalat bersama jama’ah pertama lebih utama daripada membuat jama’ah berikutnya, karena umumnya jama’ah pertama lebih banyak jumlahnya dan itu lebih disukai Allah.
Berdasarkan dalil-dalil di atas, maka dianjurkan untuk langsung masuk mengikuti jama’ah pertama walau hanya sesaat dan ia tetap mendapatkan pahala jama’ah.
Pendapat Ketiga
Sebagian ulama mengemukakan pendapat yang menjamak (mengkompromikan) semua dalil. Kaidah yang dipegang oleh para ulama ketika ada beberapa dalil yang shahih namun seakan bertentangan:

(Menjamak (kompromi) lebih didahulukan daripada mentarjih, karena beramal dengan semua nash lebih dikedepankan daripada mengamalkan sebagiannya dan meninggalkan sebagian yang lain)
Pendapat ketiga ini memberikan rincian:
Jika makmum masbuq masuk masjid bersama orang yang juga terlambat dan mau berjama’ah, atau ia tahu ada orang yang akan datang dan shalat bersamanya, maka ia tidak bergabung bersama jama’ah yang ada, namun shalat bersama orang yang datang bersamanya dalam jama’ah berikutnya.
Jika tidak ada orang yang datang dan shalat bersamanya dan ia yakin bisa mendapati jama’ah di masjid lain, maka sebaiknya ia pindah ke masjid lain.Jika tidak ada orang yang datang dan shalat bersamanya meskipun pindah masjid, maka hendaknya langsung masuk dan ikut bersama jama’ah yang ada walau hanya sesaat, karena berjama’ah walau sesaat tetap lebih baik daripada shalat sendirian.
Terdapat kaidah yang berbunyi:
مَا لَا يُدْرَكُ كُلُّهُ لَا يُتْرَكُ كُلُّهُ
(Apa yang tidak bisa dikerjakan semua, maka jangan ditinggalkan semua)
Jika ia akhirnya shalat sendiri, lalu ia mendengar ada orang datang belakangan dan shalat berjama’ah, maka ia boleh memutus shalatnya lalu bergabung dengan jama’ah tersebut, dalam rangka mendapatkan pahala shalat berjama’ah.
Di antara ulama yang mengemukakan pendapat ini adalah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dan para ulama di Lajnah Daimah.
Tambahan Faedah
Ada beberapa poin lain yang perlu ditambahkan dalam masalah ini:
Penulis pernah mendengar Syaikh Shalih Fauzan ketika ditanya ini dalam sesi tanya jawab kajian kitab <كتاب صفة الصلاة من شرح العمدة> tanggal 5 Muharram 1434 mengatakan, boleh memilih, baik bergabung bersama imam yang berada di posisi duduk tahiyyat akhir, maupun menunggu ia salam lalu mendirikan jama’ah kedua, karena masalah ini luas.
Di antara para ulama ada yang mengatakan, jika masjid yang dimasuki makmum masbuq memiliki imam rawatib, maka ia shalat sendiri dan dimakruhkan baginya membuat jama’ah kedua. Adapun jika masjid itu tidak ada imam rawatib (seperti masjid di mall atau pasar –pen), maka ia boleh shalat bersama jama’ah kedua (jika ada). Pembahasan masalah ini bisa dibaca dalam referensi lain.
Ditulis oleh ustadz Muflih Safitra bin Muhammad Saad Aly

-21  Muharram 1437 H
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَلاَ رِبْحُ مَا لَمْ تَضْمَنْ
“Tidak boleh mendapat keuntungan tanpa menanggung resiko kerugian.” (HR. Ahmad 6671, Abu Daud 3506, Turmudzi 1279 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).
bentuk-bentuk mengambil keuntungan tanpa menanggung resiko rugi:
1] Jual beli makanan sebelum terjadi serah terima
Ulama sepakat jual beli ini dilarang. Berdasarkan keterangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ
“Siapa yang membeli makanan, janganlah dia menjualnya sampai dia terima.” (HR. Bukhari 2133 & Muslim 3915).
[2] Jual beli barang selain makanan sebelum  terjadi serah terima.
Ulama berbeda pendapat, apakah larangan dalam hadis ini berlaku untuk semua makanan ataukah tidak.
Pendapat pertama, ini berlaku untuk jual beli barang yang memungkinkan untuk diserah-terimakan dengan cara taufiyah. Yang dimaksud taufiyah, barang yang dibeli telah ditimbang atau ditakar, sehingga memungkinkan bagi pembeli untuk menerimanya.
Dalilnya adalah keterangan dalam hadis lain bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli makanan sebelum diserah-terimakan. Yang itu dipahami, bahwa selain makanan tidak berlaku hukum di atas.
Dan alasan mengapa makanan dilarang dalam hal ini, karena makanan tidak mungkin bisa di-serah-terimakan sebelum ditakar.
Sanggahan:
Cara pendalilan ini kurang tepat. Karena penyebutan makanan di hadis, bukan pembatasan hukum. Namun karena transaksi makanan itu yang paling dominan di waktu itu. Bahkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma sendiri menegaskan bahwa itu tidak hanya berlaku untuk makanan.
Ibnu Abbas ketika meriwayatkan hadis larangan menjual makanan sebelum di-serah-terima-kan, beliau mengatakan,
Saya menduga, semua barang sama seperti makanan.” (HR. Muslim 3915 & Ahmad 2482)
Pendapat kedua, bahwa larangan ini berlaku untuk semua barang dagangan.
Mereka beralasan dengan riwayat Ibnu Abbas di atas.
Disamping itu, larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersifat umum.
Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang barang dagangan dijual di tempat dia dibeli, sampai pedagang memindahkanya ke tempat mereka. (HR. Abu Daud 3501 dan dihasankan al-Albani)




 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar