Selasa, 02 Juni 2015

In Memoriam, Most Loving Mom I Ever Met





Mbaaah...mbaaah...
Dalem sayang..mbah kangen nih sama bagas..

Begitu biasanya percakapan bagas dgn ibu mertuaku, kalau suamiku sedang nelpon ke kampung. Walaupun bagas tak mengerti dgn siapa dia berbicara. Tapi aku tau, ibu mertuaku senang mendengar suaranya.

Aku tak pernah menyangka bahwa aku bisa mnyayangi seseorang yang baru aku temui secara langsung 3x. Aku beruntung memiliki ibu mertua yg begitu baik. Jauh dari crita yg sering kudengar, bagaimana hubungan mertua dan menantu yg kurang harmonis. Tidak, ibu mertuaku tidak pernah membuatku merasa jengkel, didikte, atau sebagainya. Ibu mertuaku ibarat pelengkap sifat2 yg tidak ibu kandungku miliki. Beliau tipe wanita yang penyayang dan ngemong dengan anak-cucunya. Tipe ibu yang akan membuat anak-anaknya mrasa aman dan nyaman dengan perhatianya. Aku tidak komplein dengan sifat ibuku yg cuek, tapi terkadang ada rasa iri melihat bagaimana iparku yg baru melahirkan misalnya memiliki ibu yang memperhatikanya. Ketika aku harus strugle sendirian ketika baru melahirkan, karena ibuku bukan tipe wanita yang mengerti dengan urusan domestik dan mengurus anak. iparku memiliki ibu yg bisa membantunya mengurus bayinya yg baru lahir.

Aku bersyukur karena bagas memiliki mbah yang bisa memanjakanya. Ketika ibu kandungku mengajarkan sifat mandiri dan memberikan stimulasi pada Bagas, ibu mertuaku bisa menjadi sosok yg lembut, memanjakan dan penuh kasih sayang. Aku berasumsi bahwa Bagas memiliki tahun-tahun mendatang yang membahagiakan dimana ia bisa bermanja dengan mbahnya kalau pulang kampung. Tapi rupanya Allah memiliki rencana sendiri. sebentar saja waktuku mengenal ibu mertuaku. Bagaspun Cuma pernah pulang kampung 1 kali. 

;)



Aku baru 2x mengunjungi kampung suamiku. Tapi kesan ramah dan hangat melekat diingatanku. Aku selalu berpikir pulang kampung kembali. Ingin menyenangkan ibu mertuaku karena bertemu Bagas. Tapi sekarang, kampung tentu terasa berbeda. Kampung bukan kampung lagi tanpa ibu. Kosong, dan tak akan sama.  
Terakhir kali aku melihat ibu, beliau menangis mengantarkan kami ke agen travel. Akupun menangis di dalam travel. Memang benar kata suamiku, hati hanya bisa disentuh dgn hati. Dan ketulusan ibu, benar-benar berkesan dihatiku. 

Bu, Semoga Allah melindungimu.



Pekanbaru, 3 Juni 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar