Rabu, 18 Februari 2015

riwayat menulisku

Saya tidak pernah berkeinginan untuk menerbitkan buku atau bermimpi blog saya menjadi terkenal seperti blognya trinity/raditya dika. Tapi saya setia menulis sejak saya masih mengenyam pendidikan di sekolah dasar. Saat ini umur saya (hampir) 25 tahun, jadi silahkan hitung sendiri sudah berapa tahun saya menulis. Sudah menulis selama itu, prestasinya harusnya banyak donk ya? Haha..jawabanya tidak sama sekali. Saya tidak pernah menang lomba ataupun (berusaha) menerbitkan buku. Meski begitu, saya senang menulis dan saya merasakan banyak manfaat menulis bagi diri saya sendiri sehingga saya tidak berencana untuk berhenti menulis dalam waktu dekat.
Media awal saya menulis adalah jurnal pribadi alias Diary. Sampai saat ini saya masih menulis Diary, sehingga jumlah diary saya mencapai belasan buku. Walaupun sejak menikah intensitas menulis saya sudah jauh berkurang. Dengan menulis di diary, saya bisa merenung dan menilai diri sendiri. Misalnya, kenapa saya merasa begini, kenapa saya bereaksi begitu, apa yang sebenarnya penting untuk diperjuangkan dalam hidup saya dan apa yang harus diperbaiki. Menulis di diary membantu saya di fase ketika saya mempertanyakan apa tujuan hidup saya. Untuk apa sih saya diciptakan? Rupanya, hasil perenungan yang panjang dengan diary itu adalah,’untuk menyembah Allah’. sehingga sampai saat ini apapun jalan yang saya pilih saya usahakan untuk selaras dengan tujuan utama penciptaan saya tersebut. Maka dapat saya katakan manfaat pertama menulis bagi saya adalah alat bantu renung sehingga saya memiliki prinsip hidup yang jelas dan tidak terbawa arus ataupun kehilangan fokus. 
Saya mulai menulis di blog kalau tidak salah di zaman kuliah. Waktu itu, tujuan saya sekedar meningkatkan kemampuan saya menulis dalam bahasa inggris. Jadi blog saya waktu itu isinya full bahasa inggris tanpa terjemahan. Saya tidak peduli dengan jumlah pengunjung ataupun tampilan blog. Karena tujuan saya bukan rating ataupun apresiasi. Walaupun pada akhirnya blog itu saya tinggalkan karena kesibukan, tapi saya mendapatkan manfaat kedua dari menulis yaitu alat bantu belajar. Karena untuk menulis artikel dalam bahasa inggris otomatis saya harus menambah vocabulary saya, belum lagi berlatih membuat kalimat dengan struktur yang benar.
Ketika saya menikah dan menjadi ibu rumah tangga full time, barulah saya mengetahui adanya giveaway dan lomba blog. Saya pun berusaha semampu saya untuk mengikuti lomba itu sebanyak-banyaknya dengan tujuan, memenangkan hadiahnya. Hasilnya, tahun 2014 kemarin saya menjadi istri dan ibu yang agak menyebalkan demi mengikuti giveaway yang tidak satupun saya menangkan. Akhirnya saya menyadari, memaksakan diri menulis dengan menggantungkan harapan pada hasil adalah hal yang tidak menyenangkan dan kurang sehat bagi mental saya. Sayapun merubah mindset saya. Saya mengikuti giveaway tanpa melihat hadiah yang disediakan, yang penting deadlinenya sesuai dengan waktu luang yang saya miliki. Menang bukan lagi tujuan utama.
Dengan mindset saya yang baru tersebut, saya menyadari manfaat menulis yang lainya, yaitu alat untuk menambah wawasan dan melatih otak saya agar tetap bekerja.  Mengapa begitu? Iya dong, karena untuk mengikuti suatu lomba menulis, kita harus membaca dan mencari tahu hal yang sesuai dengan tema yang dilombakan. Misalnya lomba menulis di bidang ekonomi yang pernah saya ikuti, otomatis saya harus membaca jurnal-jurnal ekonomi dan pemikiran para pengamat yang bikin otak mumet. Dengan mengikuti lomba menulis berarti saya memaksa otak saya (yang terbiasa dipakai untuk mengerjakan urusan domestik) untuk tetap update dengan berita-berita yang ada dan belajar merangkainya menjadi artikel yang menarik. Walaupun Ibu rumah tangga , bukan berarti boleh kudet kan?
Kesimpulanya, dengan banyaknya manfaat menulis yang saya rasakan hingga saat ini, saya tetap akan terus menulis dan mencintai dunia menulis walaupun tidak ada yang bertepuk tangan atas hasil karya saya.




1 komentar:

  1. Terdaftar! Tengkyu sudah ikutan ^^

    Iya Mbak, bener itu. Kalo menulis dari hati rasanya lebih tulus dan mudah dilakukan. Keep on writing ya Mbak ^^

    BalasHapus